Mursyid Fikri, S.Pd.I.MH
(Sekretaris GKM FAI/Dosen Muda Unismuh)
Bismillah.
Ramadhan telah berlalu, meninggalkan jejak cahaya dalam hati mereka yang merindukan keberkahannya. Seperti hujan yang menyuburkan tanah kering, Ramadhan hadir membawa ketenangan, mengajarkan kesabaran, dan memperkuat ikatan dengan Sang Pencipta. Namun kini, bulan itu telah pergi, menyisakan pertanyaan: apakah kita mampu menjaga semangatnya dalam setiap langkah kehidupan? "Jangan jadikan Ramadhan sekadar tamu yang pergi, tetapi jadikan ia sebagai teman yang selalu menemani."
Begitulah pula peran seorang dosen. Ia bukan sekadar pendidik yang mengajarkan ilmu, tetapi juga pembimbing yang menanamkan nilai-nilai kehidupan. Kehadirannya laksana Ramadhan bagi mahasiswa memberi cahaya dalam kebingungan, menyemai kebijaksanaan dalam kebodohan, dan menanamkan keteguhan dalam perjalanan panjang pencarian ilmu. "Ilmu tanpa adab adalah kegelapan, dan adab tanpa ilmu adalah kehampaan."
Ramadhan mengajarkan kita bahwa perubahan itu mungkin, bahwa diri ini mampu menjadi lebih baik, dan bahwa setiap usaha sekecil apa pun memiliki nilai di sisi Allah. Demikian pula seorang dosen ia menginspirasi perubahan, menyalakan semangat belajar, dan membentuk karakter para mahasiswa agar menjadi insan yang bermanfaat. "Seorang guru yang baik tidak hanya mengajarkan, tetapi juga menyalakan cahaya di dalam jiwa muridnya."
Ketika Ramadhan pergi, sebagian orang merasa kehilangan, namun sebagian lainnya tetap menjaga semangatnya dalam kehidupan sehari-hari. Begitu pula dengan mahasiswa yang suatu hari akan meninggalkan bangku kuliah. Ilmu yang diberikan dosen tidak akan berarti jika tidak dihidupkan dalam amal dan akhlak. "Ilmu yang tidak diamalkan bagaikan pohon yang tidak berbuah."
Dosen sejati tidak hanya hadir di ruang kelas, tetapi juga di hati para mahasiswanya, dalam bentuk nasihat yang terus membimbing, dalam inspirasi yang terus menyala, dalam keteladanan yang tetap dikenang. Sebab seorang dosen bukan hanya mengajarkan teori, tetapi juga mendidik hati dan membentuk karakter. "Orang hebat dapat menciptakan karya besar, tetapi seorang guru hebat dapat menciptakan banyak orang hebat."
Seperti halnya Ramadhan yang mengajarkan keikhlasan dalam ibadah, seorang dosen sejati mendidik dengan penuh keikhlasan, tanpa berharap pujian, tanpa menuntut balasan, karena ia yakin bahwa keberkahan sejati datang dari ilmu yang bermanfaat. "Keikhlasan dalam mendidik adalah kunci keberkahan ilmu."
Ramadhan datang mengajarkan kesabaran, dan begitu pula seorang dosen. Ia menghadapi berbagai karakter mahasiswa, mengajari mereka dengan kelembutan, membimbing mereka dengan kasih sayang, dan bersabar dalam proses panjang membentuk generasi yang lebih baik. "Kesabaran adalah kunci keberhasilan dalam mendidik, sebagaimana hujan yang tak henti menyuburkan tanah yang gersang."
Ketika Ramadhan pergi, kita diajarkan untuk tidak berhenti dalam kebaikan. Ketika mahasiswa pergi, seorang dosen juga harus yakin bahwa tugasnya telah terlaksana dengan baik. Sebab ilmu yang diberikan dengan ketulusan akan terus mengalir dalam amal mereka yang telah belajar. "Seorang guru sejati adalah mereka yang namanya boleh terlupakan, tetapi ilmunya tetap abadi dalam amal perbuatan murid-muridnya."
Maka, wahai para pendidik, jadilah seperti Ramadhan yang kehadirannya dinanti, kepergiannya dirindukan, dan ajarannya tetap hidup dalam setiap jiwa yang pernah merasakannya. Karena sejatinya, seorang dosen bukan hanya mencetak lulusan, tetapi mencetak peradaban. "Jadilah cahaya bagi mereka yang mencari ilmu, sebagaimana mentari yang tak pernah lelah menerangi dunia."
Emoticon